Wednesday, June 17, 2015

Legenda Dangun, Legenda Leluhur Bangsa Korea

Alkisah, dahulu kala ada seorang dewa yang hidup di khayangan yang bernama Hwanin. Anak Dewa Hwanin yang bernama Hwanung meminta restunya untuk turun ke bumi karena ia memiliki ketertarikan kepada umat manusia. Hwanin pun merestuinya dan mengantarnya untuk turun dari khayangan ke gunung Taebek (태백산/ 太白山) dan membekalinya dengan roh Angin, Hujan, dan Awan sebagai pembantunya. 3000 pengikut Hwanung yang ikut turun dari khayangan pun membantunya memerintah di bumi untuk mengajarkan kebijaksanaan, cara bertani, seni dan sebagainya kepada umat manusia. Pada saat itu, ada seekor beruang dan seekor harimau yang ingin menjadi manusia. Mereka memohon kepada Hwanung agar dapat mengubah mereka menjadi manusia. Hwanung memberikan kepada mereka masing-masing satu buah mugwort dan 20 siung bawang putih. "Jika kalian hanya memakan ini dan menghindari sinar matahari selama 100 hari, maka kalian akan menjadi manusia," kata Hwanung.
Legenda Dangun, Legenda Leluhur Bangsa Korea
Beruang dan harimau menerimanya dan masuk ke dalam gua. Harimau tidak bisa menahan dirinya untuk tidak terkena sinar matahari sehingga setelah beberapa hari ia keluar dari gua. Sedangkan beruang dengan sabar menaati perintah Hwanung dan berubah menjadi wanita dalam 21 hari saja. Beruang yang sudah menjadi wanita tersebut hanya bisa berdoa kepada khayangan dan menanti agar bisa memiliki anak karena tidak ada pasangan yang dapat ia nikahi.
Hwanung mendengar doa tersebut, kemudian ia menikahi wanita yang berasal dari beruang itu. Dari pernikahan mereka, lahirlah seorang anak laki-laki yang disebut Dangun Wanggeom (단군왕검/檀君王儉). Dangun mendirikan sebuah negara yang bernama Joseon (sekarang disebut Joseon Kuno/ Gojoseon) dan menjadi raja pertama di Semenanjung Korea. Dangun memerintah selama 1500 tahun dan wafat di usia 1908 tahun.
Sumber: Riwayat Tiga Kerajaan/Samguk Yusa (삼국유사/三國遺事)
Pernah dipos di Kompasiana: http://www.kompasiana.com/margareth.mega/legenda-dangun-legenda-leluhur-bangsa-korea_54f6b04fa33311b35d8b45bb

Sunday, June 14, 2015

Beasiswa ke Korea? Banyak!

Di era Hallyu (Korean Wave) sekarang ini, banyak orang yang ingin melanjutkan pendidikan ke Korea. Jenjang S1, S2, maupun S3 sekarang banyak diminati mahasiswa Indonesia. Setiap tahunnya, pendaftar beasiswa ke kedutaan Korea Selatan di Indonesia mengalami peningkatan, sehingga mahasiswa yang memiliki keinginan untuk berkuliah ke Korea harus pintar memilih strategi agar dapat diterima.
Jika ingin memakai biaya sendiri, berapa sih biaya yang dibutuhkan? Kita ambil contoh program master sastra di KHU. Entrance fee sebesar 945.000 won, tuition fee 4.605.000 won/semester, insurance fee 99.200 won, dan biaya asrama 300.000 won/ bulan. Belum termasuk biaya hidup sebesar kira-kira 500.000 won/bulan. Jika dikalikan dengan kurs hari ini sebesar RP 12/won, bisa dikira-kira berapa juta yang harus kita siapkan dalam sebulannya.
Karena biaya yang tinggi tersebut, banyak orang mengejar beasiswa kuliah dan beasiswa penuh di Korea yang diberikan beberapa institusi, yaitu:
1. Beasiswa yang dikelola oleh Pemerintah Korea
Beasiswa yang diberikan oleh Pemerintah Korea (KGSP) biasanya adalah beasiswa penuh yang mencakup beasiswa kuliah dan beasiswa biaya hidup. Syarat yang diperlukan adalah CV, ijazah (IP minimal 3), study plan, TOEFL/IELTS, dan recommendation letter. Persaingannya cukup sulit karena banyak yang ingin mendapatkan beasiswa ini. Jika ingin mendapatkan beasiswa ini, lebih baik ambil beasiswa untuk S2 atau S3 saja karena kuota lebih besar (20 orang) dibanding beasiswa untuk S1 (2 orang). Hal yang penting yang perlu diperhatikan agar kita mendapatkan beasiswa ini adalah study plan yang jelas, TOEFL minimal 550 atau IELTS minimal 5, dan sebisa mungkin memiliki TOPIK (Test of Proficiency in Korea). Info lebih lanjut mengenai beasiswa KGSP dapat dilihat disini.
2.Beasiswa yang diberikan oleh universitas
Beasiswa ini diberikan oleh setiap universitas dan pendaftarannya berbeda. Namun, beasiswa yang diberikan oleh universitas biasanya merupakan beasiswa biaya kuliah (tuition fee), sedangkan biaya lainnya harus kita tanggung sendiri. Biasanya mahasiswa mengakalinya dengan bekerja paruh waktu menjadi asisten profesor di kampus. Beasiswa ini bisa sewaktu-waktu dicabut apabila ada nilai mata kuliah yang lebih rendah dari B atau pelanggaran peraturan kampus.Syarat yang diperlukan adalah CV, ijazah (IP minimal 3), study plan, TOEFL (minimal 500)/ IELTS (minimal 4.5), TOPIK (minimal level 4), dan recommendation letter. Persaingan untuk mendapatkan beasiswa ini lebih mudah dibandingkan beasiswa pemerintah, terutama karena mahasiswa Indonesia hanya sedikit yang mendaftar ke dalam program ini. Info lebih lanjut bisa dilihat di website universitas terkait.
3. Beasiswa yang diberikan oleh perusahaan
Beasiswa ini diberikan oleh perusahaan Korea di Indonesia, biasanya dengan ikatan dinas untuk bekerja lagi di perusahaan tersebut setelah lulus kuliah di Korea. Beasiswa yang diberikan perusahaan biasanya beasiswa full dengan biaya hidup, tetapi mahasiswa yang bersangkutan harus bekerja di cabang yang ada di Korea sambil berkuliah. Beasiswa ini biasanya diberikan kepada karyawannya yang berprestasi sehingga jika ingin mendapatkannya, kita harus berbakti dahulu dalam kurun waktu tertentu di perusahaan tersebut. Di Indonesia, ada lebih dari 1500 perusahaan Korea dan banyak dari perusahaan itu yang membutuhkan karyawan yang fasih berbahasa Korea sehingga mengirimkan karyawannya ke Korea.
4. Beasiswa yang dikelola oleh lab/profesor
Beasiswa ini biasanya diberikan kepada mahasiswa yang sedang berkuliah di Indonesia dan membutuhkan sokongan dana untuk penelitian. Dana tersebut dikelola oleh profesor di Korea yang bekerja sama dengan dosen yang ada di Indonesia. Beasiswa ini kebanyakan adalah beasiswa penelitian skripsi dan biasanya hanya selama satu semester. Beasiswa ini hanya dapat diperoleh mahasiswa berprestasi yang kampusnya memiliki hubungan kerja sama dengan universitas di Korea.
Jenis-jenis beasiswa tersebut saya dapatkan dari website remi Perpika(Persatuan Pelajar Indonesia di Korea Selatan). Apabila kita sudah diterima di universitas di Korea, kita bisa mendaftar di Perpika. Lumayan untuk menambah teman-teman dari negara sendiri bukan?
Beasiswa yang tersedia sebetulnya banyak, tinggal bagaimana usaha kita dalam mencari informasi untuk beasiswa tersebut. Pembukaan informasi beasiswa biasanya di awal tahun, tetapi lebih baik kita mempersiapkan data-data yang diperlukan dari jauh-jauh hari. Mau memilih beasiswa yang manapun, selalu siapkan sertifikat kompetensi berbahasa asing kita, TOEFL/IELTS dan TOPIK. Hal ini sangat membantu kita selangkah lebih maju dalam mendapatkan beasiswa yang kita inginkan.

Pernah dipost di kompasiana di http://www.kompasiana.com/margareth.mega/beasiswa-ke-korea-banyak_54f6cc8fa33311265e8b48bd

Saturday, June 13, 2015

Semester 1 di Bahasa dan Kebudayaan Korea UI

Juni 2009, pertama kali saya menjejakkan kaki di Universitas Indonesia untuk mendaftar ulang sebagai mahasiswa baru.

Juli 2009, saat-saat saya mempersiapkan diri untuk ospek UI yang disebut sebagai OKK UI (Orientasi Kehidupan Kampus Universitas Indonesia). Tidak seperti ospek-ospek universitas yang terdengar menyeramkan di tv atau majalah, ospek UI tidak membuat mahasiswa barunya mendapatkan kekerasan dari senior. Yang paling saya ingat pada saat OKK adalah pada saat saya harus membawa tanaman per kelompok dan tanaman itu harus ditanam di kompleks kampus untuk penghijauan. Malah yang saya dengar, pada ospek tahun 2008, para maba (mahasiswa baru) disuruh untuk membawa ikan agar dilepas di danau-danau UI.

Agustus 2009, saat-saat maba dilatih oleh Pak Dibyo untuk menjadi paduan suara untuk wisuda semester genap 2009. Sudah menjadi tradisi di UI bahwa mabalah yang menyanyikan lagu-lagu pada saat wisuda semester genap. Sayangnya, saya tidak mendapatkan kesempatan untuk menyayikan di paduan suara wisuda karena saya mendapatkan tugas sebagai pengibar bendera pada tanggal 17 Agustus 2009 dan menjaga sebagai bagian keamanan pada saat wisuda.

Saya dan Teman-teman Paskibra 2009
September 2009, perkuliahan akhirnya dimulai. Saya mulai kuliah di jurusan yang sebetulnya tidak saya inginkan. Untung saja sebagian besar mabanya tidak tahu bahasa Korea sebelum masuk dan hanya beberapa yang tahu Kpop atau Kdrama sebelum masuk. Berhubung sebagian besar dosennya adalah orang asing, saya dan teman-teman saya hanya bisa bengong di kelas karena tidak paham dosennya berbicara apa hahaha. Oh ya kalau mau tahu saya dan teman-teman belajar apa selama semester satu, bisa dibaca di sini.

Oktober 2009, saatnya dimulai latihan untuk Petang Kreatif (PK) FIB UI. Apa sih Petang Kreatif itu? Petang Kreatif itu adalah saat para maba-maba menunjukkan kebolehan mereka dalam berteater. Maba dari setiap jurusan wajib menampilkan pertunjukan teater selama 20-30 menit. Para senior pun wajib menempa junior mereka yang masih maba selama setiap hari sampai H-1 tampil. Pada awalnya sebagai maba, saya juga tidak mengerti apa pentingnya acara ini. Namun, setelah saya menjadi senior, saya jadi paham, maksud dan tujuan acara ini tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mendekatkan para maba yang tidak tahu satu sama lain sebelum masuk kuliah. Selain itu, para senior dan junior juga bisa menjadi dekat satu sama lain selama masa latihan PK ini. Malah menurut saya, dibanding ospek-ospek tidak penting yang ada di universitas lain, cara ini lebih efektif untuk mendekatkan dan memperkenalkan maba mengenai senior dan universitas. PK sendiri merupakan salah satu dari rangkaian acara Festival Budaya (Fesbud) yang diadakan setiap bulan Desember di FIB UI. Mau tahu lebih jelas mengenai Fesbud? Kamu bisa membacanya disini.

Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Korea UI Angkatan 2009, Sesaat Sebelum Naik ke Pentas Petang Kreatif
Desember 2009, kami para mahasiswa baru Bahasa dan Kebudayaan Korea UI menampilkan hasil karya kami, yaitu pentas teater berjudul "Silk of the War". Rindu sekali masa-masa itu ^^~

Wednesday, June 10, 2015

Sastra Korea UI? Hmmm......

Sudah lama saya ingin menulis mengenai pengalaman pribadi melalui blog namun baru sekarang saya bisa mempunyai waktu untuk menulis mengenai saat-saat saya masuk ke jurusan Bahasa dan Kebudayaan Korea Universitas Indonesia.

Awalnya, saya ingin menjadi dokter. Kebanggaan keluarga. Orang tua mana yang tidak ingin anaknya menjadi dokter? Maka pada tahun 2009 saya mendaftar ke UI, UGM, UNDIP, dan USU melalui SNMPTN dan jalur mandiri masing-masing. Saya memilih kedokteran sebagai pilihan pertama di universitas-universitas tersebut. Saya juga sempat mendaftar ke Universitas Trisakti dan diterima tapi ah......... Terlalu mahal untuk keluarga saya, bagaimana nanti sekolah adik-adik saya?

Akhirnya pada saat mendaftar ke UI dan UGM, saya membuat 3 pilihan jurusan. Kedokteran, Ilmu Gizi, dan Sastra Korea. Pada saat pengumuman, ternyata saya hanya diterima di jurusan Bahasa dan Kebudayaan Korea UI. Stres? Iya. Kecewa? Tentu. Saya merasa saya tidak cukup cerdas untuk bisa membahagiakan orang tua saya; Saya tidak bisa menunjukkan kepada orang tua saya bahwa saya bisa menjadi dokter seperti yang mereka inginkan. Saya dicemooh sana sini "mau apa kamu setelah lulus jurusan bahasa?" "daripada buang duit, mending nikah aja" "malu sama adik-adik kamu yang selalu masuk tiga besar" dst. Jujur, saat itu saya sudah sangat down. Walaupun diterima di universitas yang katanya nomor satu di Indonesia, saya tetap merasa rendah diri karena 'hanya' masuk jurusan bahasa.

Akhirnya dengan dukungan orang tua, saya masuk ke Jurusan Bahasa dan Kebudayaan Korea. Kok bukan Sastra UI? Hmm, katanya sih belajarnya bukan hanya sastra dan bahasa saja, makanya nama jurusannya Bahasa dan Kebudayaan Korea. Dengan setengah hati, saya memilih untuk mencoba menjalani kuliah di jurusan ini selama setahun ke depan dan mencoba SNMPTN lagi di tahun berikutnya. Walaupun mama saya sudah sangat mendukung karena banyak perusahaan Korea di Indonesia yang mencari karyawan yang bisa berbahasa Korea, saya tetap kecil hati. Ah........

Persiapan OSPEK UI mempertemukan saya dengan teman-teman jurusan saya untuk pertama kali. Sempat saya melirik nilai-nilai Ujian Nasional mereka yang tinggi-tinggi. Saya semakin rendah diri. Sudah dari sekolah swasta, nilai Ujian Nasional tidak begitu tinggi, tidak minat belajar bahasa Korea pula. Duh. 

Setelah berkenalan dengan beberapa teman-teman baru dalam jurusan, akhirnya saya tahu. Sebagian besar dari mereka sama seperti saya, masuk jurusan Bahasa dan Kebudayaan Korea hanya karena terpaksa. Sebagai pilihan kedua atau ketiga. Yang penting masuk UI. Sebagian besar dari mereka sama seperti saya. Setelah tahu masuk jurusan ini, orang-orang di sekitar mereka banyak yang mencibir.

"Hah? Sastra Korea?" "UI sih, tapi ngapain belajar sastra?" "Sastra Korea UI, hmm.... Mau jadi apa emang?"