Sunday, July 26, 2015

Sijo Karya Enam Menteri yang Menjadi Martir (사육신 / 死六臣)

Raja Sejong (1397-1450), raja yang membuat aksara Hangeul, memiliki 8 anak laki-laki dan 2 anak perempuan dari ratunya, Ratu Soheon. Penerusnya adalah Raja Munjong (1414-1452) yang hanya sempat memerintah selama 2 tahun sebelum meninggal karena penyakit. Penerus Raja Munjong adalah Raja Danjong (1441-1457), anaknya yang baru berumur 11 tahun pada saat menerima tahta kerajaan. Ia hanya dapat memerintah selama 3 tahun saja karena pada tahun 1455, pamannya yang bernama Pangeran Suyang (anak kedua Raja Sejong) mengkudeta pemerintahannya. Pangeran Suyang akhirnya mengangkat dirinya sendiri menjadi raja dengan gelar Raja Sejo (1417-1468, memerintah 1455-1468),

Walaupun banyak menteri dan aristokrat yang mendukung Raja Sejo, banyak pula yang membelot. Mereka adalah bawahan setia Raja Sejong, Raja Munjong, dan Raja Danjong. Setahun setelah Raja Danjong turun tahta, para bawahan setia tersebut membuat pemberontakan yang gagal karena ada salah satu dari mereka berkhianat. Pengkhianat tersebut adalah Kim Jil. Dari para pemberontak tersebut, ada enam orang dengan kedudukan yang paling tinggi yang akhirnya ditangkap dan dibunuh. Keenam orang tersebut disebut sebagai Enam Menteri yang Menjadi Martir (Sayuksin / 사육신 / 死六臣).

Poster Drama Six Martyred Ministers (sumber: http://global.kbsmedia.co.kr/contents/content_view.php?num=723)

Keenam menteri dan karyanya sebagai berikut:

1. Seong Sammun (성삼문 / 成三問 , 1418-1456)
    Seong Sammun adalah seorang cendekiawan yang membantu Raja Sejong untuk membuat Hangeul. Ia merupakan Menteri Budaya pasa masa Raja Sejong. Ia tetap setia kepada Raja Danjong dan ikut dalam pemberontakan untuk menurunkan Raja Sejo, Ia dihukum mati dan masuk ke dalam 'Enam Menteri yang Menjadi Martir'. Tak hanya ia yang dihukum mati karena memberontak. Ayahnya, 3 saudara laki-lakinya, 4 anak laki-lakinya, dan 5 koleganya pun ikut dihukum mati. Sijonya (puisi kuno Korea) yang terkenal sebagai berikut.

        이 몸이 주거 가서 무어시 될고 하니,
        봉래산(蓬萊山) 제일봉(第一峯)에 낙락장송(落落長松) 되야 이셔,
        백설(白雪)이 만건곤(滿乾坤)할 제 독야청청(獨也靑靑) 하리라

        Terjemahan:
        What will I choose to be when this frame perishes?
        I shall be a towering pine on the highest peak of Mt. Pongnae*
        And when white snow fills heaven and earth I shall stand upright, alone, and greening

*The name poetically applies to the Diamond Mountains in the summer-time.
(Sumber data dan terjemahan: Kim, Jaihiun Joyce (1982), Master Sijo Poems from Korea, Classical, and Modern, Si-Sa-Yong-O-Sa, Seoul, in English)

2. Pak Paengnyeon (박팽년 / 朴彭年, 1417-1456)
    Pak Paengnyeon adalah bagian dari Akademi Kerajaan dan memiliki kedudukan yang tinggi pada masa pemerintahan Raja Danjong. Ia dihukum mati setelah membelot terhadap Raja Sejo dan membuat sijo sebagai berikut.

     가마귀 눈비 맞아 희는듯 검노매라
     야광명월이 밤인들 어두우랴
     님 향한 일편단심이야 변할 줄이 있으랴

     Terjemahan:
     Crows perching in snow-followed-rain become white first and black later
     The moon glows and will remain bright, even as the sky gets dark
     Like the moon, I always retain my loyalty toward the king

(Sumber data dan terjemahan: Kim, Unsong (1986), Classical Korean Poems (Sijo), Il Nyum, Seoul, in English)

3. Ha Wiji (하위지 / 河緯地,1412-1456)
    Ha Wiji adalah seorang cendekiawan yang lulus ujian kenegaraan pada masa Raja Sejong dan mendukung Raja Danjong pada saat ia dikudeta oleh Raja Sejo. Ha Wiji ditangkap dan dibunuh pada saat memberontak terhadap Raja Sejo. Sijonya yang terkenal sebagai berikut.

     손님이 떠난 뒤 문을 닫으니 바람은 물러가고 달이 지는구나
     술독을 다시 열고 시 한 수 흩어 부르니
     아마도 소인이 뜻 이룰 곳은 이 뿐인가 하노라

Belum ada terjemahan resmi dari sijo tersebut namun isinya kurang lebih adalah mengenai kesetiaan terhadap raja yang  menjadi panutan bagi setiap rakyat. Maksud raja disini adalah Raja Danjong, dan hal ini menunjukkan kesetiaannya terhadap Raja Danjong.

(Sumber data: 국어국문학회 (2011), 한국시조감상, 보고사, 서울, in Korean)

4. Yi Gae (이개 / 李塏, 1417-1456)
    Yi Gae adalah seorang cendekiawan yang membantu Raja Sejong untuk membuat Hangeul. Ia adalah cicit dari Yi Saek. Ia tetap setia kepada Raja Danjong dan ikut dalam pemberontakan untuk menurunkan Raja Sejo, Ia dihukum mati dan masuk ke dalam 'Enam Menteri yang Menjadi Martir'.Sijonya yang terkenal sebagai berikut.

      방안에 혔는 촛불 눌과 이별하엿관대
      겉으로 눈물지고 속타는 줄 모르는다
      우리도 천리에 임 이별하고 속타는 듯하여라

      Terjemahan:
      The candle burning in the room, from whom has it's been parted?
      While it's outside drifts with tears, does it not know its heart burns?
      The candle is like my own heart and it does not know its heart burns.

(Sumber data dan terjemahan: Kim, Jaihiun Joyce (1982), Master Sijo Poems from Korea, Classical, and Modern, Si-Sa-Yong-O-Sa, Seoul, in English)

5. Yu Eungbu (유응부 / 兪應孚, ?-1456)
    Yu Eung Bu adalah seorang anggota militer yang ikut dalam pemberontakan melawan Raja Sejo, Iya menolak menyebut Raja Sejo sebagai "Yang Mulia" sehingga membuat Raja Sejo sangat marah. Sijonya yang terkenal sebagi berikut.

     간밤의 부든 바람 눈셔리 치단말가
     落落長松 (낙락장송)이 다 기우러 가노라
     물며 못다픤 곳치야 일너 무엇하리오

      Terjemahan:
      A strong wind raged last night, whipping up a violent snowstorm
      Even the huge and upright pine trees were swayed and felled
      Not to mention the tender slight, budding flowers in the garden

(Sumber data dan terjemahan: Kim, Unsong (1986), Classical Korean Poems (Sijo), Il Nyum, Seoul, in English)

6. Yu Seongwon (유성원 / 柳誠源, ?-1456)
    Yu Seongwon adalah salah satu cendekiawan yang lulus ujian negara pada masa Raja Sejong di tahun 1444 dan 1447. Ia merupakan bawahan setia Raja Sejong yang ikut pemberontakan untuk menolak Raja Sejo. Berbeda dengan kelima menteri yang lain, Yu Seongwon tidak dihukum mati, melainkan bunuh diri bersama istrinya. Sijo yang ia tinggalkan sebagai berikut.

    초당에 일이 없어 거문고를 베고 누워
    태평 성대를 꿈에나 보려하니
    문전에 몇마디 어부들의 피리소리 잠든 나를 깨우도다

Belum ada terjemahan resmi dari sijo tersebut namun isinya kurang lebih adalah sebagai berikut. Baris pertama berisikan mengenai seorang bangsawan yang memiliki waktu luang di siang hari dan menggunakan Geomungo (alat musik tradisional Korea) sebagai alas tidurnya. Baris kedua menceritakan bagaimana ia terbangun dari mimpinya yang damai. Baris ketiga menceritakan bagaimana ia terbangun oleh suara dari seruling tamunya. Secara tidak langsung, sijo ini menceritakan mengenai keadaan kerajaan yang awalnya damai namun tiba-tiba kacau karena adanya kudeta dari Pangeran Suyang.

(Sumber data: 국어국문학회 (2011), 한국시조감상, 보고사, 서울, in Korean)

Kisah keenam menteri tersebut pernah dibuat menjadi sebuah drama dengan judul "Six Martyred Ministers". Infonya bisa dilihat disini,

No comments:

Post a Comment