Tuesday, September 29, 2015

Hansi Berjudul "Jeju" Karya Pangeran Gwanghae

Cha Seung Won sebagai Pangeran Gwanghae di drama Hwajung (sumber: http://www.kdramastars.com/articles/79653/20150327/cha-seung-won-wants-to-portray-a-thoughtful-prince-gwanghae.htm) 


Pangeran Gwanghae (1575-1641) adalah raja kelima belas Joseon. Ia menjadi raja pada tahun 1608 hingga 1623. Ia menjadi putra mahkota setelah maju melawan invasi Jepang ke Korea (임진왜란) pada tahun 1592-1598 (informasi singkat: https://id.wikipedia.org/wiki/Invasi_Jepang_ke_Korea_(1592-1598)). Ia menjadi populer di antara masyarakat Joseon setelah menduduki posisi putra mahkota karena ia berusaha keras untuk menyudahi krisis kerajaan dengan menambah kekuatan militer Joseon, Ia menjadi seorang raja setelah perang selesai. Di dalam istana, ia memperbaiki hukum-hukum sebelumnya yang cacat. Di luar istana, ia memperbaiki hubungan asing dengan pihak Tiongkok dan Jepang. Setelah kudeta yang menjadikan Injo sebagai raja baru, ia diasingkan ke Pulau Ganghwa dan kemudian ke Pulau Jeju. Di Pulau Jejulah ia menghembuskan nafas terakhirnya. Ia banyak digambarkan di drama dan film modern. Seo In Guk di drama The King's Face dan Cha Seung Won di drama Hwajung merupakan beberapa penggambaran karakter Pangeran Gwanghae di dalam saeguk (drama sejarah).

濟州

風吹飛雨過珹頭
瘴氣薰陰百尺樓
滄海怒濤來薄幕
碧山愁色帶淸秋
歸心厭見王孫草
客夢頻驚帝子洲
故國存亡消息斷
烟波江上臥孤舟

제주에서

몰아치는 비바람 속에 성 앞을 지나니
후덥지근한 장독 기운이 백 척 누각에 자욱하구나.
푸른 바다의 성난 파도 어스름 저녁에 들이치고
푸른 산의 슬픈 빛은 가을 기운을 띠고 있네.
돌아가고픈 마음에 봄풀을 실컷 보았고
나그네 꿈은 제주에서 자주 깨었네.
고국의 존망은  소식조차 끊어지고
안개 낀 강의 외로운 배에 누워 있네.

Hansi adalah satu genre puisi klasik Korea yang memiliki 4 atau 8 baris dengan 7 kata pada setiap barisnya. Hansi dituliskan seluruhnya dengan menggunakan hanja (karakter mandarin tradisional). Pada hansi yang memiliki 8 baris, baris pertama dan keduanya adalah pembuka, baris ketiga hingga keenam adalah isi, serta baris ketujuh dan kedelapan adalah penutup. Namun, pada saat ini, banyak hansi yang sudah diterjemahkan ke dalam bentuk hangeul. Salah satunya adalah puisi berjudul "Jeju" yang dikarang oleh Pangeran Gwanghae. Puisi ini belum ada terjemahan bahasa Inggrisnya. Saya akan menerjemahkannya ke dalam bentuk terjemahan lepas dalam pembahasan berikut yang juga diambil dari buku <한국한시감상> yang dikarang oleh dosen-dosen sastra klasik di berbagai universitas di Korea, salah satunya adalah Prof. Ahn Younghoon, dosen sastra klasik Kyung Hee University.

Setelah Pangeran Gwanghae diturunkan dari tahta dan diganti oleh Raja Injo, ia masih hidup dalam pengasingan selama 18 tahun. Ia lebih lama hidup dalam pengasingan dibandingkan hidup sebagai seorang raja. Ia pun mengalami banyak kesulitan hidup setelah dibuang ke pengasingan. Anaknya, yang dahulu adalah seorang putra mahkota, wafat setelah meminum racun dan istrinya bunuh diri setelahnya. Dua tahun setelah pergi ke pengasingan, istri Pangeran Gwanghae, yaitu Ratu Yoo, pun wafat. Setelah berpindah-pindah tempat pengasingan selama beberapa kali, akhirnya Pangeran Gwanghae menghembuskan nafas terakhirnya pada umur 66 tahun.

Pangeran Gwanghae menuliskan puisi berjudul "Jeju" pada masa pengasingannya di Pulau Jeju. Ia mengekspresikan kerinduannya untuk mengetahui keadaan yang ada di luar Pulau Jeju dalam puisi ini. Baris pertama dan kedua jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi 'kemarahan yang ada di dalam angin hujan di luar benteng sana, rupanya hanya lewat begitu saja karena tebalnya tembok benteng yang tak dapat ditembus oleh udara yang lembab'. Baris ini adalah pembuka dari puisi "Jeju" yang menggambarkan kemarahan Gwanghae yang ada di Jeju.

Baris ketiga dan keempat jika diterjemahkan menjadi 'kemarahan gelombang laut biru datang di kala senja, cahaya kesedihan dari gunung biru mengirimkan udara musim gugur'. Hal ini menggambarkan hari Gwanghae yang sedih dan marah di pengasingannya di Pulau Jeju. Baris kelima dan keenam jika diterjemahkan menjadi 'aku melihat rerumputan musim semi di hati yang ingin kembali, rupanya seorang pengembara sering terbangun dari mimpinya di Jeju'. Gwanghae menggambarkan tahtanya yang direbut sehingga membuat dia seakan menjadi pengembara yang tak ada tujuan. Bagian isi ini menggambarkan kesedihan yang dialami Gwanghae,

Bagian penutup dapat diterjemahkan sebagai 'tak ada kabar apakah negaraku masih ada atau tidak, bagaikan diriku yang berbaring di dalam kesepian di kapal yang tertutupi kabut sungai'. Baris ini sangat menggambarkan kesepian dan kesedihan yang dialami oleh Gwanghae dalam pengasingannya. Bahkan di dalam analek Injo (인조실록), disebutkan bahwa para cendekiawan menangis pada saat membaca puisi ini.

Menghabiskan Liburan Chuseok di Namsangol Hanok Village

Pada liburan Chuseok 26-29 September ini, saya memutuskan untuk mencoba berjalan-jalan ke Namsangol Hanok Village yang terletak di Seoul. Namsangol Village terletak tidak jauh dari Stasiun Chungmuro pintu keluar 3. Hanok Village ini buka setiap hari kecuali hari selasa pada pukul 09.00 hingga 21.00 di bulan April- Oktober dan pukul 09.00 hingga 20.00 di bulan November-Maret. 

sumber: http://www.ajunews.com/view/20150921215417062

Acara khusus Chuseok ini hanya ada di tanggal 27-28 September 2015 pada pukul 11.00-18.00 dan saya memutuskan untuk pergi kesana pada tanggal  28 September 2015. Awalnya saya ingin datang pagi namun akhirnya saya sampai di tempat ini pada pukul 14.00. Jumlah pengunjung yang datang ke tempat ini sangat banyak pada hari itu karena merupakan hari kedua Chuseok. Banyak keluarga yang pergi untuk berwisata.
Pintu masuk Namsangol Hanok Village (dok. pribadi)

Hanok Village ini berisikan 5 hanok (rumah tradisional Korea) dari rumah bangsawan hingga rumah orang biasa. Para pengunjung bisa melihat rumah-rumah tradisional Korea yang ada di zaman dahulu. Tak hanya bentuknya saja dari luar, para pengunjung pun bisa melihat-lihat ke dalam rumah tersebut untuk dapat mengetahui isi rumah tradisional Korea pada zaman dahulu.
Namsangol Hanok Village terletak di tengah Kota Seoul, ibukata Korea Selatan (dok. pribadi)
Tak hanya Hanok saja, ada pula Gugakdang (traditional theater), taman tradisional, Seoul Millenium Time Capsule, dan juga art shop. Gugakdang ini terletak di dalam gedung hanok. Selain itu, yang menarik adalah adanya time capsule yang dibuat pada tahun 1994 untuk merayakan 600 tahun berdirinya kota Seoul. Di sana ada 600 barang yang dikubur dan direncanakan untuk dibuka pada 29 November 2394, yaitu pada perayaan 1000 tahun berdirinya kota Seoul.
Pengunjung berdiri mengelilingi time capsule yang dikubur di dalam tanah (dok. pribadi)
Pada hari biasa, kita bisa mencoba baju tradisional Korea, yaitu Hanbol. Selain itu kita dapat belajar menulis hangeul, membuat kerajinan kertas, belajar etiket tradisional Korea, dan merasakan pengobatan tradisional Korea. Di bulan Maret dan November, ada pula upacara pernikahan tradisional Korea yang diadakan di depan sebuah gedung Hanok. Upacara ini hanya ada di hari Sabtu dan Minggu pada pukul 11.00, 13.00, dan 15.00.
Pertunjukan Samulnori, permainan alat musik tradisional Korea (dok. pribadi)
Pada puncak perayaan Chuseok ini, ditampilkan berbagai macam permainan tradisional Korea seperti yutnori, ttakji, dan sebagainya. Anak-anak juga bisa mengikuti kelas untuk belajar membuat songpyeon (kue tradisional Korea) dan juga mencoba alat-alat pertanian yang dipakai oleh para petani di Korea. Makanan-makanan tradisional juga banyak dijual di perayaan ini.
Salah satu permainan tradisional yang dicoba oleh seorang anak (dok. pribadi)

Orientasi Mahasiswa Baru di Korea Selatan


Saya menginjakkan kaki di Korea Selatan untuk melanjutkan studi saya di program magister (S2) di salah satu universitas di Korea Selatan. Sama seperti kampus-kampus pada umumnya di berbagai belahan dunia, universitas di Korea Selatan juga memberikan orientasi kepada mahasiswa-mahasiswa barunya. Pada artikel kali ini, saya akan berbagi pengalaman saya sebagai mahasiswi baru program magister di universitas K di Seoul, Korea Selatan.



Orientasi dimulai pada pukul 13.00 waktu setempat dan dijadwalkan akan selesai pada pukul 17.00 waktu setempat. Di Korea Selatan, semua acara dimulai tepat waktu dan tidak dikenal istilah 'ngaret' seperti lazimnya yang terjadi di Indonesia. Pada awalnya saya pikir orientasi akan disampaikan dalam bahasa Inggris karena pesertanya adalah mahasiswa asing dalam program magister dan doktor. Namun ternyata semenjak awal, orientasi dimulai dengan bahasa Korea, sehingga mau tidak mau jika ingin masuk ke universitas di Korea Selatan harus bisa berbahasa Korea karena pengenalan kampus pun disampaikan dalam bahasa Korea. Orientasinya pun hanya berupa pengenalan kampus.


14092150631851685880
Salah Satu Buku Panduan



Acara orientasi tentu saja dibuka dengan pidato pembuka dari Dekan. Kemudian dilanjutkan dengan pengenalan kampus oleh senior mahasiswa asing dan pegawai kantor administrasi. Presentasi pertama adalah penjelasan mengenai kehidupan yuhaksaeng/유학생 (mahasiswa yang kuliah di luar negaranya sendiri). Kami dijelaskan bagaimana seorang yuhaksaeng bisa belajar, beradaptasi dengan lingkungan, dan mendapatkan teman baru. Kami juga dijelaskan mengenai budaya senior-junior yang sangat kental di Korea Selatan dan juga mengenai budaya minum di Korea Selatan. Presentasi kedua adalah mengenai kehidupan perkuliahan. Mereka menjelaskan mengenai cara menulis makalah dan tesis di dalam dunia perkuliahan, kemudian cara memilih mata kuliah. Program magister dapat lulus dengan nilai minimal B- dan 24 sks (tidak termasuk tesis) dalam 2 tahun, sedangkan program doktor doktor dapat lulus dengan nilai minimal B- dan 36 sks (tidak termasuk tesis) dalam 2 tahun. Dijelaskan pula mengenai cara-cara mendapatkan beasiswa di kampus K tersebut. Setelah kedua presentasi itu selesai, senior mahasiswa asing menyiapkan makanan ringan dan minuman untuk kami, para mahasiswa baru.


14092157172102997420
Makanan Ringan Korea



Kami diberikan waktu istirahat 20 menit untuk menikmati makanan dan minuman yang disediakan oleh senior kami. Selanjutnya adalah kuliah umum dari profesor mengenai pelecehan seksual. Hal ini yang tidak ada di orientasi di Indonesia pada saat saya kuliah S1 dahulu. Dalam kuliah umum ini, mahasiswa asing diajarkan untuk mengenal apa itu pelecehan seksual dan bagaimana menghadapinya dalam kehidupan sehari-hari. Kami diajarkan bagaimana pula mengenali korban pelecehan seksual di sekitar dan bagaimana membantu mereka. Kami diberikan peluit yang berguna apabila kami dilecehkan oleh orang lain. Kami juga dibekali dengan alamat dan nomor telepon polisi untuk melapor apabila terkena pelecehan seksual. Ini adalah kuliah yang sangat berguna, terutama bagi mahasiswa asing yang belum mengenali lingkungan di sekitarnya.

Presentasi terakhir adalah mengenai asuransi bagi mahasiswa. Kampus menyediakan asuransi kesehatan bagi mahasiswa dan mahasiswa harus mendaftar agar kesehatannya terjamin. Ini merupakan hal lain lagi yang baru saya ketahui. Dengan adanya asuransi ini, kami sebagai mahasiswa tidak harus pusing apabila sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Setelah presentasi ini selesai, kami pun bisa pulang lebih awal pada pukul 16.00.

Pernah diposkan di Kompasiana pada 28 Agustus 2015 (link: http://www.kompasiana.com/margareth.mega/orientasi-mahasiswa-baru-di-korea-selatan_54f5edf8a3331107038b45be)

Saturday, September 26, 2015

Ujian Komprehensif di Korean Language and Literature Kyung Hee University

Di jenjang pascasarjana, para mahasiswa di Korea wajib untuk mengikuti ujian komprehensif sebagai salah satu syarat kelulusan. Walaupun ada kampus di Korea yang tidak memiliki persyaratan ujian komprehensif, namun sebagian besar mahasiswa pascasarjana di Korea harus mengikutinya agar dapat lulus dan mendapatkan gelar. Pada perkuliahan biasa, sebagian besar mata kuliah tidak memiliki ujian tertulis sebagai Ujian Tengah Semester (UTS) dan Ujian Akhir Semester (UAS). Mahasiswa hanya diwajibkan untuk membuat presentasi dan makalah akhir saja.

Ujian komprehensif bisa diikuti apabila mahasiswa sudah mengikuti 18 SKS kuliah sehingga ada kampus yang menyediakan ujian ini mulai di akhir semester 2 atau awal semester 3. Di Kyung Hee University sendiri, ujian komprehensif bisa diikuti mahasiswa mulai di awal semester 3 sehingga apabila mahasiswa gagal mengikuti tes tersebut di semester ketiga, mahasiswa bisa mengulangnya di semester 4, 5 dan seterusnya.

Departemen Korean Language and Literature di Kyung Hee University memiliki 4 jurusan, dan masing-masing memiliki mata kuliah wajib dan mata kuliah pilihan yang diujikan pada ujian komprehensif. Mahasiswa jenjang magister memiliki satu mata kuliah wajib dan dua mata kuliah ujian pilihan. Sedangkan mahasiswa jenjang doktoral memiliki dua mata kuliah wajib dan dua mata kuliah pilihan.

  1. Jurusan Linguistik Korea (국어학): Sejarah Linguistik Korea (국어사, wajib untuk program magister), Sejarah Linguistik Korea 1 (국어사 1, wajib untuk program doktoral), Sejarah Linguistik Korea 2 (국어사 2, wajib untuk program doktoral), Tata Bahasa Korea (국어문법론, pilihan), Morfosintaksis Bahasa Korea (국어형태통어론, pilihan), Leksikal Semantik Bahasa Korea (국어어휘의미론, pilihan), Fonetik Fonologi Bahasa Korea (국어음성음운론, pilihan)
  2. Jurusan Sastra Klasik Korea (고전문학): Sejarah Kesusastraan Klasik Korea (고전문학사, wajib untuk program magister), Sejarah Kesusastraan Klasik Korea 1 (고전문학사 1, wajib untuk program doktoral), Sejarah Kesusastraan Klasik Korea 2 (고전문학사 2, wajib untuk program doktoral), Novel Klasik Korea (고소설론, pilihan), Puisi Klasik Korea (고시가론, pilihan), Sastra Hanja (한문학론, pilihan), Sastra Lisan (구비문학론, pilihan)
  3. Jurusan Sastra Modern Korea (현대문학): Sejarah Kesusastraan Modern Korea (현대문학사, wajib untuk program magister), Sejarah Kesusastraan Modern Korea 1 (현대문학사 1, wajib untuk program doktoral), Sejarah Kesusastraan Modern Korea 2 (현대문학사 2, wajib untuk program doktoral), Puisi Korea (시인론, pilihan), Kritik Sastra Korea (비평론, pilihan), Novel Korea (소설론, pilihan), Drama Korea (희곡론, pilihan)
  4. Jurusan Pendidikan Bahasa Korea untuk Orang Asing (한국어학): Penelitian Bahasa Korea (한국어학연구, wajib untuk program magister dan doktoral), Teori Pendidikan Bahasa Korea (한국어교육론, wajib untuk program doktoral), Penelitian Bahan Ajar Bahasa Korea (한국어 교재 연구, pilihan), Penelitian Metode Pengajaran Bahasa Korea (한국어 교수법 연구, pilihan), Penelitian Pengajaran Tata Bahasa Korea (한국어 문법 교육 연구, pilihan), Penelitian Kebudayaan dan Bahasa Korea (한국어 문화 연구, pilihan)
Setiap mata kuliah memiliki 2 buah pertanyaan yang harus dijawab. Satu pertanyaan harus dijawab sebanyak dua halaman folio. Waktu yang diberikan di Kyung Hee University adalah 1 jam per mata kuliah untuk mahasiswa Korea dan 1.5 jam per mata kuliah untuk orang asing.